Duka Mendalam di Thailand: Ibu Suri Sirikit, Ibu Raja Maha Vajiralongkorn, Wafat di Usia 93 Tahun
kabar NGABANG- Thailand berduka. Ibu Suri Sirikit Kitiyakara, ibu dari Raja Maha Vajiralongkorn sekaligus istri mendiang Raja Bhumibol Adulyadej, wafat dengan tenang pada usia 93 tahun, Jumat malam (24/10) waktu setempat.
Kabar duka itu disampaikan secara resmi oleh Biro Rumah Tangga Kerajaan Thailand, yang menyebut Ibu Suri menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 21.21 waktu Bangkok di salah satu rumah sakit kerajaan.
Menurut keterangan resmi, selama beberapa tahun terakhir Ibu Suri Sirikit menjalani perawatan intensif karena sejumlah penyakit yang dideritanya sejak 2019. Pada bulan ini, kondisinya dikabarkan sempat memburuk akibat infeksi darah, sebelum akhirnya berpulang.
Sosok Anggun di Balik Kejayaan Raja Bhumibol
Sirikit Kitiyakara bukan hanya dikenal sebagai permaisuri dari Raja Bhumibol Adulyadej, raja dengan masa pemerintahan terpanjang dalam sejarah Thailand, tetapi juga sebagai simbol kelembutan dan kekuatan perempuan di negeri itu.
Selama lebih dari enam dekade, Ratu Sirikit menjadi pendamping setia Raja Bhumibol dalam berbagai kegiatan kenegaraan dan sosial. Pernikahan mereka berlangsung pada 28 April 1950, hanya seminggu sebelum penobatan resmi Raja Bhumibol.
Kisah cinta keduanya bermula di Paris, saat Sirikit masih menempuh pendidikan musik dan ayahnya bertugas sebagai Duta Besar Thailand untuk Prancis. Dalam sebuah dokumenter BBC berjudul Soul of a Nation (1980), Sirikit sempat mengenang pertemuan pertamanya dengan sang raja dengan nada jenaka.
“Itu kebencian pada pandangan pertama,” ujarnya sambil tertawa.
“Raja datang terlambat tiga jam saat kami dijadwalkan bertemu pukul empat. Saya berdiri di sana terus, hanya untuk berlatih membungkuk.”

Baca Juga : DPD Perindo Landak Rayakan HUT ke-11, Momentum Perkuat Struktur Menuju Pemilu 2029
Ratu yang Mempesona Dunia
Sebagai pasangan kerajaan muda di era 1960-an, Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit sering melakukan kunjungan kenegaraan ke berbagai negara, membawa citra baru bagi monarki Thailand di mata dunia.
Mereka sempat bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Dwight Eisenhower, Ratu Elizabeth II, dan bahkan Elvis Presley. Keanggunan Sirikit membuatnya kerap masuk dalam daftar “Best Dressed Women in the World”, menempatkannya sejajar dengan tokoh-tokoh elegan seperti Jackie Kennedy.
Selain pesonanya di panggung internasional, Ratu Sirikit juga aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan. Ia dikenal memperjuangkan peran perempuan pedesaan, melestarikan kerajinan tradisional Thailand, dan membentuk Queen Sirikit Foundation yang fokus pada kesejahteraan masyarakat miskin dan pelestarian budaya.
“Ibu Bangsa” bagi Rakyat Thailand
Dalam wawancara langka dengan BBC pada tahun 1980, Sirikit menjelaskan bagaimana dirinya memandang hubungan antara monarki dan rakyat Thailand.
“Raja dan ratu selalu dekat dengan rakyat. Mereka melihat kami sebagai bapak dan ibu bangsa. Karena itu, kami hampir tidak punya kehidupan pribadi,” katanya.
Ungkapan itu bukan sekadar kata-kata. Dedikasi dan empatinya menjadikan Ratu Sirikit sosok yang sangat dicintai rakyat. Sejak tahun 1976, hari ulang tahunnya, 12 Agustus, diperingati sebagai Hari Ibu Nasional Thailand, sebuah penghormatan yang tak diberikan kepada tokoh lain di negeri itu.
Masa Sulit dan Akhir yang Tenang
Setelah Raja Bhumibol wafat pada tahun 2016, kesehatan Ratu Sirikit menurun drastis. Ia mengalami stroke pada tahun 2012, dan sejak itu jarang muncul di hadapan publik. Namun, setiap kali kabar tentang kesehatannya disiarkan, rakyat Thailand selalu menunjukkan dukungan dan doa tulus.
Pada tahun 2008, ia sempat menjadi sorotan karena hadir dalam pemakaman seorang pengunjuk rasa anti-pemerintah yang tewas dalam bentrokan dengan polisi — langkah yang menimbulkan perdebatan di kalangan politik, namun menunjukkan sisi kemanusiaannya yang kuat.
Kini, setelah kepergiannya, rakyat Thailand kembali mengenang Sirikit sebagai simbol cinta, kesetiaan, dan pengabdian bagi bangsa.
Pemakaman Kerajaan dan Masa Berkabung
Raja Maha Vajiralongkorn telah memerintahkan Biro Rumah Tangga Kerajaan untuk menyelenggarakan upacara pemakaman kerajaan. Jenazah Ibu Suri Sirikit akan disemayamkan di Dusit Thorne Hall, Istana Raja di Bangkok.
Seluruh anggota Keluarga Kerajaan Thailand akan menjalani masa berkabung selama satu tahun penuh, sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sosok yang selama puluhan tahun menjadi pilar monarki Thailand.
Ratu Sirikit meninggalkan empat anak, yakni Raja Maha Vajiralongkorn dan tiga putri kerajaan.
Bagi rakyat Thailand, kepergian Ibu Suri bukan hanya kehilangan seorang ratu, melainkan juga kepergian figur ibu bangsa yang telah menjadi sumber inspirasi dan kasih sayang selama lebih dari tujuh dekade.
“Cinta rakyat kepadanya tidak akan pernah padam,” tulis surat kabar Bangkok Post dalam tajuk rencana peringatan.
“Ratu Sirikit bukan hanya bagian dari sejarah — beliau adalah hati dari Thailand itu sendiri.”
















