Breaking News
Kumpulan informasi aktual seputar peristiwa penting yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia, meliputi isu politik, kebijakan pemerintah, bencana, dan dinamika sosial masyarakat.
Shoppe Mall
Shoppe Mall
Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Donald Trump Rebut Kembali Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan

cek disini

Trump Ingin Rebut Kembali Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan, Alasan Strategisnya Mengarah ke China

Kabar NGABANG- Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memunculkan pernyataan kontroversial terkait Afghanistan. Dalam konferensi pers di Inggris pada Kamis (19/9/2025), Trump mengungkapkan bahwa AS kini sedang berupaya untuk merebut kembali Pangkalan Udara Bagram, markas besar bekas kekuatan militer AS di Afghanistan.

Langkah ini mengejutkan publik karena sudah lebih dari empat tahun sejak penarikan militer AS dari negara tersebut. Bagram sendiri adalah pangkalan udara strategis yang berlokasi di utara ibu kota Afghanistan, Kabul, dan selama hampir dua dekade menjadi jantung operasi militer AS di kawasan itu sebelum diambil alih Taliban pada 2021.

Donald Trump Rebut Kembali Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan
Donald Trump Rebut Kembali Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan

Baca Juga : Alla Bayanova: Suara Romansa yang Menembus Batas Zaman

Dari Benteng AS Menjadi Pangkalan Taliban

Sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021, kondisi Afghanistan terus memburuk. Berbagai laporan menyebut meningkatnya kemiskinan, perlakuan buruk terhadap warga sipil, hingga pembatasan yang semakin ketat terhadap perempuan. Bagram yang dulu merupakan simbol dominasi militer AS, kini beralih fungsi di bawah kendali Taliban.

Padahal, Trump saat menjabat presiden dulu-lah yang menegosiasikan kesepakatan penarikan pasukan dengan Taliban. Namun, penarikan penuh yang kacau terjadi pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden pada pertengahan 2021, sehingga memicu perdebatan sengit antara Partai Republik dan Partai Demokrat soal siapa yang paling bertanggung jawab.

Trump: “Kita Memberikannya Secara Cuma-Cuma”

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa rencananya saat itu adalah keluar dari Afghanistan “dengan kekuatan dan martabat” sekaligus mempertahankan Pangkalan Udara Bagram.

“Kita memberikannya kepada mereka secara cuma-cuma,” kata Trump. “Kita sedang berusaha mendapatkannya kembali. Itu mungkin berita yang mengejutkan. Kami ingin pangkalan itu kembali, karena mereka membutuhkan sesuatu dari kami.”

Trump juga menyebut alasan strategis lain yang menjadi pertimbangan utama AS: lokasi Bagram hanya sekitar satu jam dari tempat China membuat senjata nuklirnya. Menurutnya, pangkalan ini memiliki nilai geopolitik luar biasa di tengah memanasnya persaingan Washington–Beijing.

Penarikan Pasukan yang Penuh Kritik

Pasukan AS terakhir meninggalkan Bagram pada Juli 2021. Tak lama setelah itu, Taliban dengan cepat kembali menguasai Afghanistan, termasuk pangkalan udara tersebut. Penarikan pasukan berakhir dengan tewasnya 13 tentara AS dalam sebuah serangan bom bunuh diri di sekitar Bandara Internasional Hamid Karzai (HKIA) dan runtuhnya pemerintahan Afghanistan yang didukung Barat.

Laporan Departemen Luar Negeri AS tahun 2022 berjudul “Tinjauan Pasca-Aksi di Afghanistan” mengungkapkan bahwa keputusan menyerahkan Bagram kepada pemerintah Afghanistan kala itu membuat HKIA menjadi satu-satunya jalur evakuasi non-kombatan (NEO). Situasi ini memperburuk kondisi di lapangan saat proses evakuasi berlangsung.

Hubungan AS–Taliban: Tegang tapi Tetap Kontak

Hingga kini AS dan Taliban tidak memiliki hubungan diplomatik resmi. Meski demikian, keduanya masih terlibat dalam pembicaraan isu-isu tertentu, seperti pembebasan sandera. Pada Maret lalu, seorang warga negara Amerika yang diculik saat bepergian di Afghanistan berhasil dibebaskan. Bahkan pekan lalu Taliban mengumumkan telah tercapai kesepakatan pertukaran tahanan.

Analisis Para Pakar

Pernyataan Trump tentang Bagram memunculkan pro dan kontra. Daniel DePetris, pakar di lembaga kajian Defense Priorities, menulis di platform X bahwa Trump sejak awal ingin mengakhiri “perang abadi” dan menarik AS dari komitmen luar negeri yang tak berkesudahan, sehingga kini dia menimbang untuk membawa kembali pasukan AS ke Bagram.

Sementara itu Rebeccah Heinrichs, peneliti senior sekaligus direktur Keystone Defense Initiative di Hudson Institute, menilai langkah AS menyerahkan Bagram kepada Taliban pada 2021 adalah kesalahan besar. “Tentu saja Presiden Trump benar tentang Bagram. Sungguh absurd menyerahkannya kepada Taliban—terutama dalam konteks persaingan dengan Tiongkok,” tulisnya di X.

Pertarungan Geopolitik yang Lebih Luas

Bagi banyak pengamat, keinginan Trump merebut kembali Bagram bukan sekadar nostalgia atau koreksi kebijakan lama, melainkan bagian dari kalkulasi geopolitik baru AS di kawasan Asia Tengah. Lokasi Afghanistan yang berbatasan langsung dengan kekuatan-kekuatan besar seperti China, Pakistan, dan Iran membuat setiap pangkalan militer di wilayah ini memiliki nilai strategis yang luar biasa.

Pernyataan Trump ini juga menandai kembalinya isu Afghanistan dalam wacana politik AS, yang sebelumnya mulai tenggelam setelah penarikan pasukan 2021. Jika benar-benar terjadi, upaya ini akan membuka babak baru hubungan AS–Taliban sekaligus menguji kembali pengaruh Washington di kawasan yang pernah menjadi pusat perang melawan teror.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *