Kabar NGABANG- Suasana hening menyelimuti Kota Nagasaki pada Sabtu (9/8/2025) pagi. Ribuan warga, pejabat, dan tamu internasional berkumpul di Taman Perdamaian untuk mengenang salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah manusia: pengeboman atom Nagasaki yang terjadi 80 tahun lalu. Namun, di tengah suasana haru, ada hal yang tetap menjadi ciri khas peringatan ini — pemerintah Jepang dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menghindari penyebutan langsung Amerika Serikat (AS) sebagai pihak yang menjatuhkan bom tersebut.
Mengenang Tragedi 9 Agustus 1945
Pada 9 Agustus 1945, bom atom berkekuatan dahsyat menghantam Nagasaki, hanya tiga hari setelah Hiroshima mengalami serangan serupa. Dua serangan ini menewaskan sekitar 200.000 warga sipil dan memaksa Jepang menyerah tanpa syarat, mengakhiri Perang Dunia II. Meski demikian, perdebatan tentang apakah serangan itu benar-benar diperlukan terus berlanjut hingga kini.
Sejumlah arsip, termasuk laporan Survei Pengeboman Strategis AS pada 1946, menyebut bahwa Jepang kemungkinan besar akan menyerah bahkan tanpa penggunaan bom atom. Namun, hingga kini pemerintah AS tetap mempertahankan argumen bahwa langkah itu diambil demi menghindari invasi darat yang akan menelan lebih banyak korban.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5310573/original/098848700_1754733701-Untitled.jpg)
Baca Juga : Harga Tomat dan Jeruk di Sanggau Turun, Masyarakat Mulai Lega
Fokus pada Pesan Perdamaian
Dalam pidatonya, Perdana Menteri Jepang Ishiba Shigeru tidak menyebut nama AS, melainkan menekankan pentingnya mewariskan kisah nyata tragedi perang kepada generasi mendatang.
“Kita harus menjaga ingatan tentang apa yang terjadi di Jepang 80 tahun lalu—realitas dan tragedi perang, serta dampak mengerikan dari bom atom,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, melalui perwakilannya Izumi Nakamitsu, mendesak negara-negara di seluruh dunia untuk mengambil langkah nyata dalam pelucutan senjata nuklir, dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) sebagai fondasinya.
Seruan dari Nagasaki
Wali Kota Nagasaki Shiro Suzuki menyerukan agar para pemimpin dunia tidak hanya berbicara, tetapi juga memberikan langkah konkret menuju penghapusan senjata nuklir.
“Dunia tidak butuh lebih banyak pidato, dunia butuh aksi,” tegasnya.
Bayang-Bayang Ketegangan Global
Ironisnya, peringatan ini berlangsung hanya sebulan setelah AS melancarkan serangan udara terhadap tiga lokasi di Iran yang diklaim terkait dengan program nuklir negara tersebut. Washington menyebut aksinya sebagai upaya mencegah pengembangan senjata nuklir, namun Teheran membantah tuduhan itu.
Langkah AS ini memicu kritik dari sejumlah negara, termasuk Rusia dan China, yang menilai tindakan tersebut justru melemahkan upaya non-proliferasi global. Padahal, berdasarkan NPT, negara-negara penandatangan—termasuk Iran—memiliki hak untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Mengapa AS Tidak Disebut?
Pengamat menilai penghindaran penyebutan AS dalam peringatan ini adalah bagian dari diplomasi sensitif yang sudah berlangsung puluhan tahun. Jepang, yang kini menjadi sekutu dekat AS, tampaknya memilih untuk menekankan pesan perdamaian dan pelucutan senjata nuklir tanpa mengungkit secara langsung pihak yang menjatuhkan bom tersebut.
Bagi warga Nagasaki, peringatan ini bukan sekadar mengenang, melainkan juga peringatan bagi dunia bahwa sekali senjata nuklir digunakan, konsekuensinya akan menghantui umat manusia selama-lamanya.
















