Kapal Handala Dicegat di Laut Internasional: Israel Dikecam Langgar Hukum Internasional
Kabar NGABANG- Ketegangan kembali memuncak di Laut Mediterania. Kapal bantuan kemanusiaan Handala yang dioperasikan oleh Freedom Flotilla Coalition (FFC) dicegat secara paksa oleh militer Israel saat berlayar di perairan internasional, sekitar 40 mil laut dari pesisir Jalur Gaza, Sabtu malam (26 Juli 2025). Tindakan ini langsung menuai kecaman global karena dianggap sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hak kemanusiaan.
Kapal Handala bukan kapal biasa. Di dalamnya terdapat 21 aktivis dan jurnalis internasional dari berbagai latar belakang, mulai dari politisi, akademisi, seniman, hingga pembela hak asasi manusia dari 12 negara. Mereka membawa muatan non-militer seperti susu formula bayi, makanan pokok, dan obat-obatan, yang ditujukan untuk masyarakat Gaza yang kini hidup dalam kondisi darurat akibat blokade berkepanjangan Israel.

Baca Juga : Piala AFF U-23: Vanenburg Utamakan Masa Depan Arkhan Fikri, Absen di Laga Lawan Vietnam?
Misi Kemanusiaan yang Dihentikan Secara Paksa
Menurut keterangan FFC, kapal Handala berlayar membawa “pesan solidaritas dan harapan” dari dunia internasional kepada rakyat Palestina. Namun, pesan damai ini justru disambut dengan kekerasan dan penahanan oleh otoritas Israel. Padahal, sesuai hukum laut internasional, aksi pencegatan di perairan internasional tergolong ilegal jika tidak mengacu pada ancaman langsung terhadap negara pemblokir.
Salah satu relawan FFC asal Amerika Serikat, Jacob Berger, dalam video singkat yang dirilis ke media sosial menyebut tindakan Israel sebagai penculikan. “Kami diculik dari laut oleh pasukan bersenjata. Saya mohon semua kerabat dan keluarga mendesak pemerintah AS untuk menuntut pembebasan saya,” ucapnya penuh emosi.
Bukan Insiden Pertama: Upaya Berulang Menghadirkan Bantuan Kemanusiaan
Kasus ini bukan yang pertama. Pada Juni lalu, kapal bantuan lain bernama Madleen juga dicegat dan disita oleh Israel saat mencoba masuk ke Gaza. Bahkan, aktivis iklim terkenal asal Swedia, Greta Thunberg, ikut ditahan dalam operasi tersebut bersama 11 aktivis lainnya, sebelum akhirnya dideportasi.
Kali ini, dua politisi asal Prancis ikut dalam rombongan kapal Handala, yaitu Gabrielle Cathala (anggota parlemen Val-de-Marne) dan Emma Forreau (anggota parlemen Eropa berkewarganegaraan Prancis-Swedia). Selain mereka, ada pula aktivis dari Italia, Tunisia, Australia, Inggris, Norwegia, dan AS.
Reaksi Internasional: Eropa Bersatu Mengecam
Peristiwa ini langsung memicu gelombang kritik dari berbagai negara Eropa. Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, mengaku telah berbicara langsung dengan Menteri Israel Gideon Sa’ar untuk memastikan kondisi dua warga Italia yang ikut dalam misi tersebut. Kedua warga tersebut kini telah tiba di Pelabuhan Ashdod dan tengah dibantu oleh Kedutaan Italia di Tel Aviv.
Sementara itu, Pemerintah Spanyol menegaskan komitmen mereka untuk terus membantu rakyat Palestina. Selain menugaskan Badan Kerjasama Internasional Spanyol untuk menyalurkan bantuan secara langsung, mereka juga menyuarakan dukungan terhadap pengakuan negara Palestina dan solusi dua negara dalam Sidang Umum PBB mendatang.
“Setiap hari, lebih dari 100.000 anak dan 40.000 bayi di Gaza berada dalam ancaman kelaparan akut. Israel harus membuka akses kemanusiaan secara permanen tanpa syarat,” tegas pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Spanyol.
Pelanggaran Hukum Internasional: Seruan dari Komunitas HAM
Organisasi hak asasi manusia regional Adalah turut mengecam keras intersepsi kapal Handala. Mereka menegaskan bahwa tindakan Israel di perairan internasional tidak memiliki dasar hukum apa pun.
“Israel tidak memiliki yurisdiksi di wilayah laut internasional. Penahanan terhadap para aktivis adalah pelanggaran nyata terhadap Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS),” ujar juru bicara Adalah.
Sejauh ini, tiga aktivis—Antonio Mazzeo (Italia), Gabrielle Cathala (Prancis), dan Jacob Berger (AS)—dilaporkan setuju untuk dideportasi. Namun, 15 aktivis lainnya memilih untuk tetap menjalani proses hukum di Israel sebagai bentuk protes. Mereka berasal dari berbagai negara seperti Inggris, Tunisia, Norwegia, dan Australia.
Di sisi lain, dua warga negara ganda AS-Israel, Huwaida Arraf dan Bob Suberi, telah dibebaskan setelah menjalani interogasi dan kini berada di bawah perlindungan tim hukum Adalah. Namun, masih ada empat nama yang belum diketahui keberadaannya secara pasti, termasuk jurnalis Al Jazeera Mohamed El-Bakkali dan kamerawan Waad Al Musa.
Krisis Gaza: 18 Tahun dalam Cengkeraman Blokade
Untuk diketahui, Israel telah memberlakukan blokade darat, laut, dan udara atas Gaza selama 18 tahun. Sejak 2 Maret 2025, situasi semakin memburuk ketika Israel menutup semua jalur penyeberangan, menghentikan konvoi bantuan, dan menolak seruan internasional untuk membuka kembali akses kemanusiaan.
















