Iran Ultimatum AS dan Israel, Ancaman Serius Jika Serangan di Gaza Tak Berhenti

Kabar NGABANG – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengeluarkan ultimatum keras kepada Amerika Serikat dan Israel. Dalam pidato yang disiarkan langsung televisi nasional Iran, Khamenei memperingatkan bahwa seluruh pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah bisa menjadi sasaran jika agresi terhadap Gaza terus berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan tak lama setelah serangan udara Israel kembali menggempur wilayah Gaza pada Jumat (27/6), menewaskan sedikitnya 51 warga sipil, termasuk 14 orang di Gaza utara. Iran menyebut aksi tersebut sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap nilai kemanusiaan dan perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.
“Kesabaran rakyat Iran ada batasnya. Jika kekejaman ini diteruskan, kami tidak akan tinggal diam,” ujar Khamenei.
Iran juga menyebut serangan sebelumnya yang dilakukan ke wilayah Israel sebagai bentuk respons atas kekejaman yang berlangsung. Serangan tersebut, menurut klaim Iran, menyebabkan 28 korban jiwa di pihak Israel. Di sisi lain, 627 warga Iran dilaporkan tewas akibat serangan balasan Israel, dan lebih dari 4.800 orang mengalami luka-luka.
Baca Juga : Iran Miliki Uranium untuk 10 Nuklir, IAEA Kehilangan Akses Usai Serangan Israel
Sementara itu, data dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan angka korban yang terus membengkak. Sejak konflik meletus, tercatat 56.156 orang meninggal dunia dan lebih dari 132.000 luka-luka. Serangan terbaru bahkan menyasar zona aman sipil di al-Mawasi, Gaza Selatan, menewaskan lima orang dan melukai belasan lainnya.
WHO Kirim Bantuan Medis ke Gaza, Tapi Sebut Masih Jauh dari Cukup
Di tengah meningkatnya kekerasan, Presiden AS Donald Trump menyampaikan rencana pertemuan diplomatik antara pejabat tinggi AS dan Iran. Namun, langkah ini dipertanyakan efektivitasnya karena Iran telah menghentikan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA)—indikasi penolakan terhadap tekanan global.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi pengiriman sembilan truk bantuan medis ke Gaza, termasuk kantong darah dan plasma. Namun Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menilai bantuan tersebut masih sangat minim. Empat truk bantuan lainnya masih tertahan di perbatasan Karem Abu Salem.
Dengan belum adanya penurunan eskalasi secara nyata, publik internasional kini menanti dua hal penting: apakah Iran benar-benar akan memenuhi ancamannya, atau apakah tekanan global mampu mendorong Israel menghentikan agresi militer ke Gaza.
















